Move On.... :)
Ada
saat-saat dalam hidupku ketika aku meyakini bahwa ini hanya sementara. Bahwa
aku tidak akan selamanya menjadi yang kedua. Bahwa kamu, suatu hari, akan
memutuskan untuk memilihku dan menjadikanku satu-satunya. Ada masanya ketika
aku meyakini bahwa menjadi prioritas kedua adalah sesuatu yang harus kuterima
dengan lapang dada. Ini demi kamu. Demi kita. Yang perlu kulakukan hanya
bersabar dan tetap berada di sisimu.
Tetapi
bulan demi bulan berlalu, dan aku tidak lagi mempercayai hal-hal yang dahulu
kuyakini sepenuh hati. Kesendirian atau kebersamaan tidak menggangguku. Tetapi
kenyataan bahwa aku tak pernah tahu apakah sesungguhnya aku sendiri atau
bersamamu adalah sebuah kutukan yang menghantui hari-hariku. Ketidaktahuan
apakah aku adalah milikmu atau apakah kamu adalah milikku, menjadikan dunia
buram di mataku. Aku terantuk, tersandung, terjatuh, tanpa pernah tahu di mana
aku sesungguhnya berada: di relung atau palung hatimu?
Dan
waktu berjalan. Ratusan hari terlewati. Kemudian di penghujung malam, aku hanya
punya kenangan. Kenangan yang sudah usang, sehingga begitu rapuh untuk
disentuh. Jika aku mencoba merabanya, semua hanya akan meluruh menjadi
serpih-serpih yang tak akan lagi bisa kusulam utuh.
Aku
bosan dengan mendung di langitku. Aku menginginkan matahari. Aku kedinginan
karena hujan, dan mengharapkan musim panas. Aku tak lagi nyaman dengan langit
yang melulu ungu dan kelabu. Aku ingin harum manis merah jambu dan balon-balon
berwarna lucu. Menangis tidak lagi
romantis. Aku ingin berbagi tawa dan tersenyum kepada dunia.
Jadi, ijinkan aku
untuk jatuh cinta dengan yang lain selain kamu.
Dengan
seseorang yang akan membuatku tertawa, bukan menitikkan air mata. Dengan
seseorang yang akan menggenggam tanganku dan berkata bahwa ia menginginkanku
kepada dunia, bukan menyembunyikannya. Dengan seseorang yang akan berbisik di
telingaku bahwa aku adalah satu-satunya, dan sungguh-sungguh memaksudkannya.
Mungkin, bersamamu,
aku sudah lupa apa artinya cinta. Kamu terlanjur membuatku percaya bahwa cinta
adalah penerimaan diri ketika dijadikan orang ketiga. Dan aku bodoh karena
meyakininya. Hari ini, aku menyadari betapa aku sudah terlalu lama menyakiti diriku
sendiri, demi kita. Kita yang mungkin bagimu tidak pernah ada.
Aku juga ingin
berbahagia.
Seperti kamu, dan dia.
Dan
jika bahagia berarti melepasmu; jika itu berarti melewati hari-hariku tanpamu,
tak mengapa. Karena yang kuinginkan saat ini adalah melindungi jiwaku, dan
memastikan bahwa hatiku masih punya kapasitas yang cukup untuk mencinta.
Dalam
satu lompatan waktu yang sudah terlalu genting, aku berdiri di depan setumpuk
kenangan itu. Sekarang, atau tidak sama sekali. Melompat pergi, atau bersiap-siap
jatuh lagi. Kupandangi masa lalu itu untuk yang terakhir kali.
Menggigit bibir bawah berulang kali dan menabah-nabahkan diri.
Kemudian
aku berbalik pergi. Meninggalkan semuanya. Tidak ada kata-kata perpisahan.
Tidak ada drama. Tidak ada air mata. Aku pun terjaga sampai pukul 4 dini hari.
Mendengarkan gemericik hujan yang tidak berhenti-berhenti.
Aku
jatuh tertidur, dan membuka mata menjelang pukul 5 pagi. Menatap nyalang
langit-langit kamar dan mematikan weker yang baru satu menit lagi akan
berbunyi. Hujan masih belum berhenti.
Dan
aku masih memutuskan untuk tidak kembali.
Karena
penyesalan-penyesalan yang dulu pernah ada, sekarang bukan lagi milikku. Aku
melepaskanmu. Karena telah tiba saatnya, ketika semua kebahagiaan yang aku rasakan
bukan lagi tentang kamu.
Januari
2014
Komentar
Posting Komentar