Namanya Ihda Ainin Nawawi, dia sahabatku.
Berbicara tentang perasaan, rasanya saya ingin sekali bebicara yang jujur, berbicara yang benar tentang ini, namun pada kenyataannya saya selalu gagal dalam mendeskripsikan perasaan saya sendiri. Bicara tentang perasaan selalu membuat saya menjadi manusia paling berbelit belit sepanjang abad 21, karena memang perasaan saya tidak pernah sederhana, tidak sesederhana rasa cinta orang tua terhadap anaknya, tidak sesederhana rasa cinta sahabat terhadap sahabatnya. Perasaan saya itu rumit, atau saya yang membuatnya rumit. Saya adalah salah satu manusia dari bermiliyar miliyar manusia dibumi yang tergolong susah move on wkwk, saya tidak bisa berbohong ketika saya mencintai seorang anak manusia dan itu akan sulit lupa. Rasanya saya ingin menjadi manusia pelupa dalam hal ini tapi tetap saja saya tidak bisa. Kecenderungan intuisi saya selalu mengarah kepada dia yang dengan bodohnya masih saya tunggu dan akan sampai kapan saya tunggu juga saya belum tau. Saya sebenarnya merasa amat sanga...