Postingan

Menampilkan postingan dari 2014

Beberapa Waktu Lalu..

T RUTH OR DARE Jadi, singkat cerita dimulailah permainan yang bikin otot jantung saya bekerja ekstra lebih keras dari biasanya, padahal saya hanya duduk manis menunggu giliran dibantai dengan pertanyaan – pertanyaan yang sudah lama bercongkol didalam benak sahabat – sahabat saya ini. Permainan ini kami modifikasi untuk menjadi permainan truth tanpa dare-nya, iya… harus jujur gak bisa ngeles.Ampun…. benar – benar deh.Akhirnya, botol beberapa kali singgah dan membabat habis semua rahasia yang sudah susah payah kami sembunyikan sekian lama. Hingga sialnya mulut botol berhenti tepat didepan saya.“Kamu, sama dia gimana, masihkah? “ Oh God!!! karena tidak ada pilihan lain selain jujur sejujurnya, akhirnya saya buka aib juga, dengan dada nyesek akhirnya saya ngaku juga kalau masih ada tersisa bukan tersisa sih lebih tepatnya perasaan saya belum berkurang sedikitpun walau saya tidak bisa bilang bakal bertambah. Kenapa?aneh bukan? kenapa saya gak mau perasaan ini bertambah? Dari para...

Waktu?

Waktu? Berapa banyak waktu yang kukeluarkan? Jika begini… lebih baik aku pergi saja, lama sekali aku menunggu higga aku mulai berpaling, telah banyak waktuku terbuang hanya untuk menunggumu. Ku coba bersabar karena aku setia, tapi…, kesetiaan bisa menjadi pengkhianatan jika kesetiaan itu tak dijaga… Ku lihat diujung sana, seseorang juga menunggu sepertiku… Tak lama kemudian kekasihnya sudah datang, tapi wanita itu malah marah-marah karena kelamaan nunggu, kasihan sekali kekasihnya itu padahal wanita itu hanya menunggu 20 menit, sedangkan aku? Berapa jam aku menunggu? , lalu aku sadar beruntunglah kekasihku karena aku tak seperti wanita itu, akupun bersyukur dan aku berharap kesetiaan itu masih ada dipihakku ---- Jam? Jam berapa sekarang? Aku mulai lelah, sulit rasanya berdiri lagi setelah berjam-jam duduk, apa dia tidak apa-apa? Kok nggak ada kabarnya? Aku mulai khawatir kenapa dia tak datang juga? Apa ini? Sifat aslinya? Yang nggak pernah menghargai perasaan? Atau…...

Coretan Tak Bermakna

satu coretan untukmu  Meskipun terkadang menyebalkan, dia adalah orang yang selalu bisa saya andalkan menolak kebenaran yang kau ungkap berkali-kali. Kau membuatku benci penegasan. Bahkan, hanya sekedar menerima saja, kini aku enggan. Aku capek. Aku bosan. Aku sedih. Aku takut. Dan aku benci penegasanmu, benci dirimu!!! Kupejamkan mata sekali lagi. Menyelami hati yang mulai terasa perih, terajam halus berlarut-larut. Tanpa sisa. Aku benci dirimu. Ingin kukatakan tanpa henti, aku benci dirimu. Dentuman berat ini menghantam kuat, tepat di sisi tersembunyi, sisi lemahku, yang rapuh. Inginku lagi tak peduli, tapi aku...sakit...benar-benar sakit. “Kamu kenapa?” terdengar suara lirih dari hadapanku. Kubuka mataku yang sempat menikmati lamunan dalam gelap. Aku diam. Hingga menit berganti pun, aku masih kekeuh, tak bergeming. Diam dan kosong. Kualihkan pandangan ke sudut tiang kokoh di ujung sana. Tak kutemukan apa-apa. Pun jawaban untuk pertanyaan singkatmu. Hanya bias p...

My Inspiration...

My Inspiration.. From            : Dissa_loke@yahoo.com To                : N_ramamurthy99@yahoo.com Subject        : A   Shoulder to Cry On Salam jumpa, Paman Raman. Bisakah aku bercerita padamu? tentang sesuatu. Aku tau, saat ini kau berada di Canada. paman, apa yang kau rasakan ketika kesendirian itu melanda padamu? sepi, hening, sunyi, dan apapun itu yang bernafaskan kegelapan. Bisakah kau meminjamkan bahumu untukku bersandar di dalam tangisku? Lebih baik aku berteman baik dengan pamanku yang jelas-jelas tidak mengetahui dengan keadaanku sebenarnya   di Indonesia. Senandung lagu dari Tommy Page berjudul “A Shoulder to Cry On” tengah ku dengarkan sambil menangis, Paman.. Paman, ingin rasanya aku pergi dari dunia ini, menjauh dari rumah. Tidak tinggal dibumi ini, melainkan di planet yang sangat ku impikan...