Beberapa Waktu Lalu..
Jadi, singkat cerita dimulailah permainan yang bikin otot
jantung saya bekerja ekstra lebih keras dari biasanya, padahal saya hanya duduk
manis menunggu giliran dibantai dengan pertanyaan – pertanyaan yang sudah lama
bercongkol didalam benak sahabat – sahabat saya ini. Permainan ini kami
modifikasi untuk menjadi permainan truth tanpa dare-nya, iya… harus jujur gak
bisa ngeles.Ampun…. benar – benar deh.Akhirnya, botol beberapa kali singgah dan
membabat habis semua rahasia yang sudah susah payah kami sembunyikan sekian
lama. Hingga sialnya mulut botol berhenti tepat didepan saya.“Kamu, sama dia
gimana, masihkah? “
Oh God!!! karena tidak ada pilihan lain selain jujur
sejujurnya, akhirnya saya buka aib juga, dengan dada nyesek akhirnya saya ngaku
juga kalau masih ada tersisa bukan tersisa sih lebih tepatnya perasaan saya
belum berkurang sedikitpun walau saya tidak bisa bilang bakal bertambah.
Kenapa?aneh bukan? kenapa saya gak mau perasaan ini
bertambah? Dari paragraf di atas mungkin sebagian anda akan berpikir saya belum
move on dari mantan pacar. Orang yang dimaksud sahabat saya diatas adalah
seseorang yang dengan gampang menebar janji bak umpan dan saya dengan bodohnya
menelan bulat – bulat umpan tersebut tanpa tahu konsekuensinya. Ok, lebih
tepatnya saya dekat dengan seseorang yang sebelum menjadi pria penebar janji
dia lebih dulu sudah menjadi seorang kakak yang bisa diandalkan, yang sangat
terampil menghibur dan juga saudara yang di mata saya sangat bisa dibanggakan.
Hanya dekat, pasti ngerti, cerdasi aja deh.
Ya, itulah mengapa saya tidak ingin perasaan kepada dia
bertambah.Karena saya ingin memantaskan diri untuk seseorang yang sudah
dipertemukan dengan saya jauh sebelum saya diazani pertama kali oleh bapak dan
disambut haru oleh mama yang sudah mempertaruhkan nyawanya untuk bisa
menghadirkan saya kedunia ini.Saya sedang bersabar menunggu dia yang dulu sudah
berkorban tulang rusuk untuk saya agar datang meminta izin bapak saya untuk
kembali membawa saya kesampingnya.Ya, saya sedang dalam masa bersabar dalam
menahan semua hal yang belum sepantasnya saya lakukan. Bersabar bukan berarti
hanya mengurut dada dan menangis meratap kepada Tuhan, tetapi bersabar berarti
melakukan hal agar sabar ini tetap menetap hingga waktunya tiba untuk pergi,
dalam hal ini saya mencoba membuat perasaan sabar betah dengan memantaskan diri
kepada Allah sehingga Allah yakin dan pada waktunya akan membukakan jalan untuk
bertemu lagi dengan “dia” yang sebenarnya.
Sebagian anda mungkin berpikir, untuk apa saya repot – repot
melakukan hal ini, toh jodoh gak bakalan kemana, kalau jodoh pasti ketemu juga,
kita kan juga butuh usaha supaya ketemu dengan Mr. Right. Iya, benar, jodoh memang
tak kan kemana tapi saya lebih percaya pada janji tuhan yang mengatakan perempuan
yang baik – baik untuk laki –laki yang baik, dan perempuan yang tidak baik juga
untuk laki – laki yang tidak baik. Tentu saja kita semua ingin mendapatkan
pasangan yang baik karena itu saya sedang berusaha agar bisa mendapatkannya,
bagaimana mungkin saya berharap mendapatkan pria yang berakhlak mendekati
rasulullah dan pengetahuan agama yang mempuni untuk mengimami saya tetapi
kelakuan saya tidak bisa sebanding dengan nilai yang dia anut?Setidaknya saya
juga harus berusaha untuk menjadi orang yang lebih baik juga bukan?Beginilah
usaha saya untuk mendapatkan Mr.Right. Saya tidak perlu susah payah menebar
umpan untuk mendapatkan ikan karena saya sedang berusaha menabung uang untuk
bisa mendapatkan ikan yang saya mau.
Hahaha
cukup tuhan dan sahabat saya yang iseng mengorek isi batok
kepala saya aja yang tahu, karena ini tidak penting toh dia bukan siapa –
siapa. Tuhan sudah menyiapkan seseorang buat saya jauh – jauh hari, untuk apa
repot – repot melakukan pekerjaan yang sudah beres diurus. Makanya saya dengan
tegas mengatakan sudah tutup buku dengan para lawan jenis dan mencoba
menetralkan hati ini lagi dan menggemboknya kuat – kuat hingga akhirnya si dia
yang sebenarnya datang dengan gentle mengungkapkan perasaannya disaksikan oleh
keluarganya.
Jangan salah paham, bukan berarti saya tidak berinteraksi
lagi dengan lawan jenis. Saya tetap akan berinteraksi seperti biasanya. Saya
ini juga makhluk sosial lho. Tetapi saya tidak melayani hal – hal yang hanya
membuang – buang waktu saya .
Ya, saya hanya menerima orang yang benar – benar siap bukan
orang yang baru akan menyiapkan diri.
Kalau ada kesempatan main truth or dare lagi, saya mau main
sama tuhan. Kalau saya punya kesempatan bertanya saya bakal nanya begini
“Tuhan, siapa orangnya?”
Tanpa mainpun saya tahu jawabannya pasti begini “Siapkan diri
dulu, jika siap waktunya bakal datang juga”.Makanya bersabar lebih baik dari
pada mencoreng kehormatan yang saya punya.Siapa tahu “dia” yang sebenarnya yang
sampai sekarang masih anonymous juga berusaha menjaga diri seperti saya.
Mungkin ada juga yang terpikir, kenapa kamu mau repot – repot
begini, dia belum tentu usaha jaga diri seperti kamu? Jawabannya karena saya
percaya akan janji tuhan yang sudah saya jelaskan di atas. Walaupun nantinya
dia tidak seperti saya yang berusaha menjaga diri, setidaknya saya sudah
berusaha memberikan yang terbaik untuk dia, dan saya juga tidak akan
mempermasalahkan siapa saja orang sebelum saya yang sudah singgah di hatinya
karena yang terpenting adalah masa sekarang dan masa depan. Kita tidak hidup
dimasa lalu, saya hanya butuh komitmen agar saya jadi satu – satunya bagi dia
sekarang dan terus dimasa – masa yang akan datang, itu saja sudah cukup.
Truth or truth itumah :D
BalasHapus